June 3, 2008

Maximum Rock 'N Roll Monarchy I


1. Roy "Dji Hard"
2. Sadix "Daddy-O-Dice"
3. Memet
4. Tut Sampi
5. Jerinx
6. Kadek Pablo a.k.a. Kadek Bintang
7. Dewa Oscar
8. Eric Tattoo
9. Gus Cobar
10. Unsolved! :D



*Picture taken from Roy's post in Suicide Glam mailing list, April 2008*

June 2, 2008

Teasing Teaser



It's just a teaser, indeed. But you gotta admit it, it's teasing... Right? Hahaha... Sure, that's why we call it 'teaser'!

I've watched it hundreds of times. Still, I love it. And still, it makes me laugh. I also posted this trailer video in You Tube, KickAss Choppers' site and in some pages in Facebook. Just search for it.

June 1, 2008

Learning How To Do This Blogging Thing


People have started blogging from couple of years ago. Dan gue? Just now! Hahaha... Kali ini bukan karena males ketika semua orang beramai-ramai blogging dan lantas gue jadi anti blogging. Nope. The thing is, I already have many social networking site which I can also do such a thing like blogging in those sites; Multiply, MySpace, Friendster... Bahkan, gue sampai harus memisahkan; where do I put the poems, where do I put the so-called daily notes, and also the reviews and stuff.

Nah, I bet you wanna know why finally did I make this one. Jawabannya adalah; now I work for Musikator.com, an Indonesian music directory portal. Formatnya ya kurang lebih seperti ini. Actually, Robin had taught me how to upload the articles. But I forgot already. And it made me confused. Shitty. Ya, makanya... Terjadilah blog ini. Oya. Sebelumnya, barusan aja gue juga bikinin account blog buat si Brutus. So, here I go.

Selamat mengikuti gue belajar blogging. Hehehe :D


Photo: Ade Putri in Susie Hedijanto, make up by QQ Franky, taken by Davy Linggar

Li Yen


Rating:★★★★
Category:Restaurants
Cuisine: Chinese
Location:Jl. Asemka Raya No. 168A, Kota, Jakarta Barat 11110. Phone: (021) 6930108, 6930208 / Fax. (021) 6930189

Berbasis referensi dari buku Kuliner Jalan Sutra edisi #2 (Pesta Bebek) yang mengatakan bahwa bebek panggangnya mengalahkan bebek panggang Imperial Chef / Duck King, ahem… Maka berangkatlah saya untuk mencari pembuktian. Sebelumnya, saya dan Brutus memang sempat memasukkan nama Li Yen dalam list “Kapan-Kapan” kami. Dan ini hanya karena tergiur penampakan sederet bebek panggang yang terpampang di etalase depan Li Yen. Akhirnya, selalu saja terlewatkan. Bagaimana tidak? Di daerah Gloria Glodok sana, banyak juga “godaan” lain.

Memasuki pintu, kami disambut oleh seorang waiter dan seorang lagi waitress. Waitress inilah yang lantas menuntun kami ke meja. Meja bundar dengan tamplak plastik warna merah jambu. Chinese banget. Mengingatkan saya pada dekorasi RM Halim atau RM Adam di Surabaya, langganan almarhum Kakek saya semasa hidupnya. Nuansanya kurang lebih sama. Di sini, malah ada pula TV yang memasang DVD karaoke lagu Tionghoa. Pol.

¼ Bebek Panggang (55K)
Tadinya kami mau memesan setengah ekor. Tapi si ibu waitress ini malah menyarankan untuk memesan ¼ ekor saja. Cukup untuk 2 orang, ujarnya. “Hm, okelah,” pikir saya, “Sebagai kunjungan perdana, mari menjadikan kunjungan kali ini sebagai acara mencicipi. Artinya; pesan menu lain juga untuk dicoba.” Bebek panggang datang paling awal setelah pickles, kacang telur dan sambal – tentunya. Saya baru ingat, “Damn. Lupa, harusnya tadi bilang kalau mau pesan bagian dada.” Datangnya paha. Saya lebih menyukai bebek bagian dada. Dagingnya lebih tebal, teksturnya juga tidak alot seperti pada bagian paha. Lapisan lemak di bawah kulitnya juga cenderung lebih sedikit dan tipis. Tapi ternyata, Bebek Panggang yang datang ini, walaupun bagian paha, tapi sama sekali tidak alot. Lapisan lemak di bawah kulit pun tipis. Dan yang paling nendang adalah ketika saya merasakan daging bebeknya yang sangat moist. Lembut sekali. Melumer di lidah saya dengan sempurna. Condiment yang mereka provide, adalah dipping sauce berwarna putih butek dengan citarasa asam dan sedikit pedas. Saya lantas meminta tambahan hoisin sauce. Bukan, bukan buat saya. Melainkan buat Brutus. He really likes to dip the duck meat to this brown coloured sauce. Saya sendiri, lebih senang merasakan versi original-nya. Hm. Akhirnya, saya pun berani ikut menobatkan Bebek Panggang Li Yen sebagai "The Best Roast Duck In Town".

Udang Kecil Telur Asin – Uk. S (66K)
Datang dalam porsi yang terhitung besar, ternyata udangnya pun nggak sekecil yang saya pikir sebelumnya. They’re quite big, actually. Crispy sekali, dan dibalut oleh adonan telur asin yang melimpah, rasanya memang juara banget. Kulit udang yang tidak dikupas sama sekali, membuat aroma udang tetap kuat sehingga tidak terkalahkan oleh kuatnya rasa merah telur asin. Tapi tentu saja, cukup merepotkan karena harus mengupasnya lagi. Enak. Tapi, maaf, masih belum bisa mengalahkan sang juara, Udang Telur Asin di Din Tai Fung.

Nasi Goreng Yang Chou – Uk. S (40K)
Porsi ukuran small ini juga terhitung besar. Owkay. Saya jadi menyimpulkan bahwa size small di Li Yen berarti bisa untuk 3 orang. Nasi Goreng Yang Chow ini hadir dengan perbandingan nasi dan isinya yaitu 1:1. Udang, babi dan kacang polongnya banyak sekali. Rasanya pun enak. Standar nasi goreng Chinese; tidak terlalu banyak bumbu. Hasilnya? Tidak memberatkan mulut ketika harus dipadukan dengan sejumlah lauk lainnya.

Pickle (6K)
Nah, ini dia yang tadi hadir duluan; acar timur, kacang telur dan sambal. Ternyata ditagih juga, walaupun yang kami makan hanya kacang telurnya.


ADE-licious-o-meter (from 0 to 5 level):
Taste: 9 of 10
Food Presentation: 8 of 10
Service: 8.5 of 10
Hygienic Level: 9 of 10

Selain pickles, kami juga dibebani 10% tax. That’s all. Will we ever come back here again? Definitely. Bebek lagi, bebek lagi!



*List “Kapan-Kapan”: Setiap kali kami melewati suatu tempat yang tempting, saya akan berujar, “Kapan-kapan makan di situ yuk!”. Tapi, saya tidak pernah mencatatnya. Dan saya adalah satu dari 100 Orang Paling Pelupa Di Dunia. Walhasil, saya selalu lupa, “Apa saja ya yang ada di list kapan-kapan itu?”

May 21, 2008

Ali Sadikin (7 Juli 1927 - 20 Mei 2008)


Kemaren malam Ibu saya menelepon. "Idola kamu meninggal."
Heh? Idola yang mana? Nikki Sixx? Atau Al Pacino? "Ali Sadikin."
Glek.

Well, yea, he's old. Jadi mungkin memang "sudah waktunya". Apalagi, saya tahu bahwa beliau sudah sakit selama sekitar sebulan dan dirawat di Singapore.

Almarhum Ali Sadikin adalah pahlawan besar bagi saya. Kalau dibacakan di berita tadi pagi bahwa, "Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya", uh, saya agak protes. Saya akan menyebutkan sebagai, "Indonesia kehilangan putra terbaiknya." He is the best. Setidaknya, begitulah menurut saya.

Saya "mengenal" sosok almarhum Ali Sadikin ketika saya berusia sekitar 6 tahun. Hasil membaca interview dengan beliau di beberapa koran dan majalah. Saya lantas "jatuh cinta" pada beliau ketika saya berusia sekitar 12 tahun. Ketika saya sudah dapat memahami benar segala hal yang sudah dilakukan beliau untuk kota Jakarta. Ketika saya sudah dapat mencerna kepandaian beliau yang teramat sangat. Ketika saya akhirnya mengerti bahwa ketajaman mulut beliau bukan sekadar hembusan angin kosong. And, please, take a look at the picture. He's gorgeous. Sangat berwibawa. Admit it.

Tahun 1997, saya menulis surat dengan tulisan tangan sepanjang 6 halaman kepada beliau. Saya mengirimkannya tidak ke rumah Jl. Borobudur No. 2, melainkan ke tempat tinggal beliau di Jatipadang. Ternyata, surat saya itu terselip di antara tumpukan koran di rumah beliau selama lebih dari sebulan. Saya bahkan sudah lupa bahwa saya telah mengirimkan surat tersebut, ketika akhirnya seorang wanita menghubungi saya melalui telepon. Wanita tersebut adalah sekretaris almarhum Ali Sadikin. Ia menceritakan mengenai apa yang terjadi pada surat saya. Ia minta maaf, lalu kemudian menyambungkan telepon tersebut kepada almarhum Ali Sadikin.

Teman saya boleh jingkrak-jingkrak ketika keningnya dikecup oleh vokalis Flowers. Teman saya yang lain boleh gelagapan ketika diberi senyum oleh gitaris Slank. Tapi rasanya, euphoria terbesar yang pernah saya alami seumur hidup adalah ketika seorang Ali Sadikin menyapa saya dengan hangat di telepon. Saya nyaris speechless. Tapi untungnya tidak. Kami berdiskusi selama sekitar 15 menit di telepon. Membahas inti surat saya. Membahas Petisi 50. Menceritakan tentang prostitusi, judi, serta konsepnya dalam membangun Jakarta. Ah. Beliau terlalu jenius. Terlalu wah. Terlalu keren. Terlalu maju. Membuat saya semakin "jatuh cinta". I adore Ali Sadikin.

Beliau juga sekali waktu mengirimkan kartu ucapan pada hari raya Idul Fitri 1419 Hijriyah. Menyesal sekali saya tidak dapat memenuhi undangannya untuk makan siang di Jl. Borobudur No. 2 pada waktu itu. Tapi, ya sudahlah. Terlanjur.

Saya merasa kehilangan. Sekaligus merindukan. Merindukan hadirnya seseorang berkualitas seperti almarhum Ali Sadikin.

May 19, 2008

Klappertaart Caryabudi


Rating:★★★★
Category:Other
Saya pikir, seperti inilah seharusnya makanan yang dinamakan Klappertaart. Karena inilah kue kelapa muda pertama yang saya cicipi waktu kecil. Selain itu, di kardus tempatnya, dituliskan juga namanya, “Klappertaart (Kue Kelapa Muda)”. Maka, salahkah kalau lantas saya seringkali menolak memakan Klappertaart yang bisa dijumpai di restoran masakan Manado yang rasanya cenderung lebih manis dan teksturnya juga lebih mirip vla padat yang dicampurkan dengan irisan daging buah kelapa muda? Bahkan buatan Ibu saya pun masih sering saya persalahkan.

Dibungkus kardus berukuran 30cm x 30cm dengan ultra-vintage design berwarna hijau, kue kelapa muda ini hanya bisa diperoleh dengan memesan terlebih dahulu. Biasanya sih, saya menerima kue ini sebagai oleh-oleh dari kerabat ibu di Surabaya yang bertandang ke rumah. Kata ibu saya, yang pernah beberapa kali ke Caryabudi untuk mengambil pesanannya, tempat ini dihuni oleh beberapa orang tua. Tidak ada display. Hanya membuat berdasarkan pesanan. Toh, tetap tidak tampak seperti melayani pesanan juga. Nyatanya, dari sticker yang tertempel di balik kardus pembungkus, Caryabudi bahkan menerima pesanan lainnya. Selain aneka taart (mulai dari Taart Ulang Tahun, Roll Taart, Cheese Cake, bahkan ada Siwalan Taart! Hahaha… Duh, saya bahkan nggak bisa membayangkan gimana bentuknya Siwalan Taart ini. Nice idea, though), ada Pastel Tutup, Sup Merah, hingga Fruit Salad.

Berbeda dengan Klappertaart kebanyakan, Klappertaart dari Caryabudi ini lebih menyerupai bolu yang lantas di bawahnya terdapat beberapa lapis irisan tebal daging buah kelapa muda. Tidak ada taburan irisan kacang almond juga di atasnya, melainkan hanya beberapa buah kismis. Jarang-jarang banget. Bagian bolu sebelah luar terasa seperti bolu pada umumnya. Teksturnya pun biasa, tidak spesial. Tapi mendekati lapisan daging buah kelapa muda, tekstur bolu jauh lebih lembut dan padat. Ini dia bagian kesukaan saya.

Entah kenapa, saya sangat menyukai Klappertaart ini. Bukan yang lainnya. Mungkin karena saya lebih terbiasa dengan rasanya, yang manisnya sangat tipis. Atau lebih karena Klappertaart yang ini selalu membawa saya ke ingatan masa lalu. Aw!

O ya. Ini saya catatkan alamatnya;
Caryabudi
Jl. Ngagel Jaya No. 52, Surabaya
Phone: (031) 5023327


Dan, berhubung selalu dibawakan sebagai oleh-oleh, jadi… Maaf, saya nggak tahu harganya. Hiks.

Warung Tengil


Rating:★★★
Category:Restaurants
Cuisine: Other
Location:Jl. Boulevard Raya FW-28, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Telp: (021) 4532239

Babi guling ala Bali adalah salah satu masakan favorit saya. Saya langsung jatuh cinta sejak pertama kali mencoba babi guling di warung Nadi Jaya, Kuta, Bali. Salah satu warung babi guling terbaik di Bali – versi saya, of course. Jadi, setiap pulang ke Jakarta, yang sering bikin saya kangen sama Bali ya, tentu aja, babi guling-nya. Karena susah banget mendapatkannya di sini. Ada sih, di Pura yang di Rawamangun, menurut seorang teman. Tapi, uhm… Ke Pura? Ribet kayaknya. Jadi, suatu malam, setelah kekenyangan menghabiskan seporsi bubur sapo di Bun Ong - Kelapa Gading, saya melihat di seberang ada sebuah kedai makan. Warung Tengil namanya. Dengan gambar kartun babi sebagai maskotnya. Babi guling Bali? Aw. Harus dicoba! Apalagi ketika melewatinya, tempat ini terlihat penuh sekali. Ramai = mungkin enak :)

Saya datang pada hari Minggu sore. Pengunjung terlihat ramai, tapi tidak seramai malam saat pertama kali saya mengetahui keberadaan Warung Tengil ini. Saya dan Brutus dipersilakan naik ke lantai 2, karena meja di lantai dasar sudah lumayan penuh. Interior busuk ini, saya duga, untuk memperjelas kesan tradisionalnya. Paduan seng bekas (terlihat dari sebagian yang berkarat), anyaman bambu bernuansa cokelat tua, kap lampu bambu, sayangnya harus bertabrakan dengan sangat anehnya dengan lampu kristal – walaupun cahayanya tetap remang. Ah, hell with the interior. Saya ke sini mau makan kok! Dan inilah yang saya pesan…

Nasi Babi Guling Pisah (26K)
Datang dalam porsi yang besar. Daging babi yang generous – sebelumnya memang sudah dijelaskan oleh mbak waitress, bahwa pada porsi pisah ini, lauknya akan lebih banyak jika dibanding dengan porsi campur. Beberapa potong jeroan babi yang digoreng, sayur urap, kerupuk kulit babi, dan 2 keping kulit babi guling, ikut menemani si daging babi guling yang berlumuran bumbu. Yummm! Membangkitkan selera, indeed. Tekstur daging babi terasa moist. Bumbunya? Well done. Bisa disejajarkan dengan si Nadi Jaya. Pelan-pelan nonjok. Tiba-tiba aja saya sudah mengucurkan keringat deras; kepedesan. Kick ass! Gorengan jeroan tidak segaring di Nadi Jaya, tapi nyatanya justru menjadi point lebih. Karena tidak menghilangkan rasa si jeroan itu, pada akhirnya. Sayur urapnya biasa, tidak spesial. Kulit babinya, jauh dari crispy. Nyaris liat, malah. Sayang. Padahal, lapisan lemak di bawahnya tipis sekali. Kalau saja diolah atau disimpan dengan lebih tepat, saya yakin, bisa jadi akan mengalahkan kulit babi guling lainnya di seantero Bali!

Nasi Babi Bambu Bakar (26K)
Bumbunya sebenarnya sudah amat sangat baik. Dan cara memasak daging apapun di dalam batang bambu, selalu menghasilkan aroma tebal menggiurkan yang datang dari bumbu-bumbu serta bambu itu sendiri. Sayangnya, daging babi dimasak hingga terlalu kering. Hilanglah tekstur moist babi yang khas itu. Sayur kangkung bunga pepaya yang dibubuhi suwiran ikan tongkol, juga tidak istimewa. Terlalu layu sehingga penampakannya pun tidak menarik. Setengah butir telur ayam dengan bumbu Bali cukup menghibur, walaupun disatukan dalam piring sajian yang isinya melulu masakan dari Manado ini. This menu? Not suggested.

Sate Babi (3K per-tusuk)
Ini juga, sate babi ala Manado. Not in Balinese style. Kami pesan 2 tusuk saja. Setiap tusuk berisi 3 potong besar babi dengan warna cerah, dan disiram oleh sambal rica-rica. Merah mengkilap, berminyak, dengan aroma pedas yang dahsyat. Dan ternyata, selain pedas, memang rasanya pun enak sekali. Irisan bawang merah dalam porsi besar tidak membuat sambal ini jadi melulu rasa bawang. Komposisinya tepat. Pedas. Galak. Dan mengundang untuk terus menyirami nasi dengan minyaknya. Slurp! Sate babinya sendiri sepi bumbu. Dan itu jadi point lebih juga, bagi saya. Rasanya jadi seperti makan grilled pork yang hanya dibumbui garam dan bawang putih. Perfect.

Soup
Sup ini adalah bagian dari pesanan Babi Guling dan Babi Bambu Bakar. Sup yang sangat sederhana. Kaldunya clear, tidak berat. Berisi sepotong iga babi dengan daging tipis melekat pada tulang. Sedikit potongan daun bawang dan sejumlah helai daun kemangi membuat kuah sup tidak terlihat terlalu polos. Cocok untuk membersihkan kerongkongan dari bumbu-bumbu yang melekat sebelumnya dari Babi Guling.

ADE-licious-o-meter:
Taste: 7.5 of 10
Food Presentation: 7 of 10
Service: 7 of 10
Hygienic Level: 6.5 of 10


I definitely will come back. Tapi, lupakan Babi Bambu Bakar. Sepertinya saya akan memesan 1 porsi Nasi Babi Guling Pisah saja, dengan 1 porsi nasi putih. Buat makan berdua sih cukup banget. Selain perbabian, bisa coba pesan Nasi Ayam Tengil. Yang ini, ala Bali. O ya, harga belum termasuk 10% PPN. One more thing; kalau merasa terganggu dengan keberadaan pengamen, boleh coba minta untuk duduk di atas. Ruangan AC, boleh merokok.